Langsung ke konten utama

IPW: 80 Persen Anggota Polri Tak Punya Senjata Api



JAKARTA - Indonesia Police Watch (IPW) menyebutkan modernisasi persenjataan Polri merupakan kebutuhan yang mendesak dan harus dilakukan sesegera mungkin. Mengingat, senjata api Polri yang ada saat ini sudah tidak layak lagi.

Ketua Presidiun IPW Neta S Pane kepada SP di Jakarta, Selasa (3/10) pagi menyebutkan, sekitar 80 persen anggota Polri tak memiliki senjata. Sedangkan, 20 persen yang memiliki senjata api saat ini merupakan senjata api yang sudah tua dan hasil kanibalisasi.

Dikatakan, berdasarkan data IPW, dari 400.000 anggota Polri, hanya 20 persen yang memiliki senjata api. "Itu pun sebagian besar senjata apinya sangat tidak layak, antara lain berkarat, sudah tua, dan hasil kanibalisasi dari sejumlah senjata api yang rusak" ujar Ketua Presidiun IPW Neta S Pane.

Karena itu, tuturnya, IPW meminta Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian untuk melakukan pendataan ulang dan evaluasi secara menyeluruh keberadaan senjata api serta alat kelengkapan tugas anggota kepolisian, terutama yang bertugas di lapangan. Langkah ini, paparnya, harus segera dilakukan mengingat tugas anggota Polri di lapangan yang kian berat, terutama dalam menghadapi serangan teroris, yang kian beragam dengan persenjataan yang kian modern.

Menurut Neta, akibat tidak layaknya persenjataan anggota Polri ini muncul dua hal. Pertama, kerap terjadinya kasus salah tembak. Di mana polisi yang hendak menembak pelaku kejahatan malah salah sasaran karena keandalan senjatanya sudah tidak baik. Akibatnya, anggota masyarakat yang menjadi korban. Hal ini terlihat dari data di mana pada tahun 2014 terdapat 13 kasus salah tembak dan 2015 terdapat 20 kasus salah tembak.

Kedua, jumlah polisi yang tewas akibat kebrutalan pelaku kejahatan dan teroris kian meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2012 ada 29 kasus polisi tewas akibat ulah pelaku kejahatan, tahun 2013 tercatat 27 kasus, tahun 2014 ada 41 kasus, dan tahun 2015 ada 10 kasus polisi terbunuh oleh penjahat.

Dengan maraknya ancaman terorisme dan makin banyaknya pelaku kejahatan bersenjata api, lanjut Neta, tentunya ini menjadi ancaman bagi masyarakat dan anggota polisi itu sendiri. Untuk itu, tandasnya, Polri perlu mengevaluasi keberadaan senjata api anggotanya dan segera membenahi dan melengkapinya.

Terutama, tegasnya, menjelang Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019 yang tingkat kerawanannya sangat tinggi, Polri perlu mengantisipasinya sedini mungkin. Salah satunya, kata Neta, dengan melengkapi dan membenahi peralatan senjata bagi anggota kepolisian yang bertugas di lapangan.

Neta menegaskan, Kapolri tidak boleh mendiamkan kondisi ini. Sebab, minimnya senjata api yang dimiliki Polri akan berdampak pada kinerja anggota kepolisian di lapangan.

Sebab, keberadaan senjata api dan kelengkapan peralatan tugas anggota polisi ini berfungsi untuk dua hal strategis, yakni melindungi masyarakat dan melindungi keselamatan anggota polisi itu sendiri.

Lebih dari itu, kata Ketua Presidium IPW ini, bagaimana polisi bisa melindungi masyarakat, jika polisi itu sendiri tidak mampu melindungi dirinya sendiri. "Bagaimana pula Polri bisa profesional jika anggotanya di lapangan menjadi bulan-bulanan pelaku kejahatan dan teroris. Apalagi, senjata teroris lebih modern dibanding senjata anggota Polri." ujarnya.

Neta mengatakan, menjelang Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019 di mana eskalasi kerawanan akan meningkat, maka sudah selayaknya Polri menyiapkan diri sejak sekarang. Ditekankan, jika Kapolri tidak segera mencermati hal ini dan hanya mengandalkan 20 persen senjata apinya yang sudah tua dan hasil kanibalisasi tersebut, dikhawatirkan akan banyak polisi yang menjadi korban dan Polri tidak bisa maksimal menjaga keamanan masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JUSUF KALLA: JEMPOL BUAT POLRI "UNGKAP SABU 1 TON"

Jakarta- Upaya Polda Metro jaya yang terdiri dari gabungan Ditresnarkoba Polda Metro dan Polresta Depok mengungkap penyeludupan Sabu 1 Ton mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Begitu juga Wakil Presiden RI Jusuf Kalla angkat jempol buat Polri, pria yang di akrab di panggil JK itu, memuji kinerja aparat kepolisian, menurutnya penagkapan tersebut merupakan prestasi baru, Sabtu (15/7/17).  JK juga menegaskan "penangkapan sabu 1 Ton kemarin merupakan terbesar saat ini, dan prestasi luar bisa, namun Jk juga menghimbau aparat kepolsian tak cepat puas dan meningkatkan kerjasama Internasional. JK juga berharap pelaku dapat hukuman yang berat, dengan tegas JK mengatakan "jadi ini memang harus diproses sangat berat, yang lebih kecil aja 1 kg bisa hukuman mati, apalagi yang 1 Ton", ujar JK, Sabtu (15/7/17) Memang tangkapan Sabu 1 Ton ini selain bernilai triliyunan Rupiah, juga dapat menyelematkan anak bangsa hingga 100 juta jiwa, artinya dengan tertangkapnya penyelud...

Ketua MUI: Umat Islam Tak Usah Ikut Aksi 287

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin mengimbau, umat Islam tidak terprovokasi sehingga turut menjadi peserta dalam aksi 287. JAKARTA  - Unjuk rasa besar yang rencananya diselenggarakan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI itu akan dilaksanakan di Jakarta pada Jumat esok, 28 Juli 2017. Rencana aksi tersebut akan diikuti 5.000 hingga 10.000 orang. Tujuan aksi  itu untuk memprotes Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang baru diterbitkan. Menurut Maruf, unjuk rasa adalah hal yang tidak perlu dilakukan. "Kalau (menurut) MUI sih, pemerintah, umat, tidak usah terprovokasi, tidak usah ikut (unjuk rasa 287). Itu (perihal keberlanjutan Perppu), sudah ada mekanismenya, bahwa pemerintah berhak, menurut Undang-undang membuat Perppu. Dan nanti Perppu itu akan diuji oleh DPR. Itu kan berjalan saja. Tidak usah ada tekanan-tekanan dari pihak mana pun. Saya kira itu," ujar Maruf di J...

Polri Serius Tangani Kasus Novel Baswedan, Sketsa Terkini Pelaku Sudah Didapatkan

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menunjukkan sketsa terbaru wajah terduga pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Sketsa diperoleh berdasarkan keterangan saksi yang ada di lokasi kejadian. "Ini adalah dari saksi yang sangat penting karena 5 menit sebelum kejadian ada di dekat masjid. Dia mencurigakan yang kami duga dia pengendara sepeda motor," kata Tito dalam konferensi pers seusai pertemuan di kantor Presiden, kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (31/7/2017). Saksi melihat terduga pelaku berdiri mencurigakan di dekat masjid tempat Novel menunaikan salat subuh berjemaah. Terduga penyerang Novel itu memiliki ciri-ciri bertubuh ramping, tinggi 167-170 cm, kulit agak hitam, dan rambut keriting. S aksi yang dimaksud Tito tak bersedia diungkap namanya. Tetapi saksi tersebut dinilai sangat penting oleh kepolisian. Pihaknya juga bekerja sama dengan kepolisian Australia (AFP) untuk mengungkap kasus ini. "Ini su...