Langsung ke konten utama

Saksi Kunci Sempat Imbau Warga untuk Tak Bakar Pencuri Ampli di Bekasi

Rojali, marbut Musala Al-Hidayah yang menjadi lokasi MA mencuri amplifier, menyaksikan detik-detik pencurian amplifier oleh MA sampai MA dikejar oleh massa karena kabur. Menurut penuturannya kepada kumparan (kumparan.com), dia sempat mengimbau kepada warga sekitar untuk mengamankan MA setelah tertangkap.
"Nanti ditaruh di rumah siapa atau diamankan segala macem, atau ditaruh di balai desa, yang penting orangnya aman. Jangan sampai dihakimi oleh massa," kata Rojali di Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (5/8).
Saat kejadian itu, Rojali melihat sendiri MA mengambil amplifier musala. Setelah sempat diteriaki 'maling', MA pun kabur dan warga yang sebagian besar terdiri dari anak muda ikut mengejar MA.
Warga awalnya mengira MA mencuri motor. Rojali kemudian diberitahu oleh seorang bapak yang dia tidak kenal untuk meminta tolong memberitahu kepada massa bahwa yang dicuri MA bukan motor, melainkan amplifier.
"Setelah itu ada bapak-bapak yang identitasnya tidak saya ketahui, tapi saya ingat betul dia hampiri saya (bilang) pak kalau bisa itu dikasih tahu, dia bukan maling motor gitu. Karena emang iya dia cuma ambil ampli saya," kata Rojali bercerita.
Rojali pun langsung berlari menuju kerumunan massa untuk mengklarifikasi hal tersebut. MA kemudian memegang kaki Rojali sembaari minta maaf.
"Kalau ada yang punya video silakan disaksikan, dalam konteks saya masuk ke kerumunan massa saya temuin dia. Dia langsung pegang kaki saya dan mohon maaf 'Pak mohon maaf' sambil nangis. Saya bilang 'enggak usah nyembah-nyembah', terus saya bilang ke massa dia enggak ambil motor, cuma ambil ampli, tolong jangan main hakim sendiri," paparnya.
"Karena massa sudah segitu banyaknya, ada bapak-bapak tinggi besar pakai sorban di situ, pak haji gitu, juga bilang 'jangan main hakim sendiri loh'. Saya sudah berupaya untuk melerai jangan sampai dihakimi. Kalau dia bersalah, biar hukum yang menjawab," ujarnya.
Baca Juga: 
Setelah mengimbau warga, Rojali pun meninggalkan lokasi kejadian. Dia berharap warga yang mengejar MA dapat mengamankan MA dan dapat mengondisikan keadaan agar tidak terjadi aksi main hakim sendiri. Rojali kemudian pulang ke kediamannya.
TKP pembakaran. (Foto:Ferio Pristiawan/kumparan)
Sembari kembali ke kediamannya, dia pun menelpon Bimaspol setempat dan menceritakan seluruh kronologis kejadian kepada Bimaspol tersebut.

"Ketika saya kontak dia, saya lumayan lama juga ngasih informasi ke beliau. Sehingga beliau juga sudah kontak ke Polsek Babelan (memberitahu) ada informasi juga dari sana bahwasanya Polsek Babelan sedang meluncur," tuturnya.

Mendengar itu, Rojali merasa sedikit lega sembari berharap tidak terjadi apa-apa dengan MA yang sedang dikejar massa. Saat itu, dia mengaku cukup tenang. Apalagi dia bersedia menjadi saksi bersama dengan salah satu warga, yaitu Edi, apabila polisi membutuhkan keterangan dari mereka.

Rojali dan Edi pun sempat berbincang, bertukar pendapat agar MA dapat segera dipulangkan ke keluarganya.

"Disitu saya ngobrol 'Pak, kalau bisa dia dipulangin aja. Kan nanti malam ada acara juga'," kata Rojali sembari mengingat kembali percakapannya dengan Edi.

Memikirkan MA yang masih dikejar, Rojali kemudian menghubungi salah satu warga yang juga ikut mengejar MA. Namun dia tidak tahu jika MA dipukuli, bahkan dibakar.

"Saya enggak tahu kalau kemudian itu di seberang sudah dipukulin segala macam. Sampai kalimatnya (diceritakan) yang terakhir ketika saya sampai di rumah itu sudah dibakar saya enggak tahu. Demi Allah saya enggak tahu," ujarnya.
Musala Al-Hidayah (Foto:Ferio Pristiawan/kumparan)
"Bahkan, saya terus terang saja secara pribadi mengutuk perbuatan anarkisme seperti itu. Itu perbuatan binatang, perbuatan tidak berperikemanusiaan, perbuatan orang yang tidak punya akhlak," tegasnya.

Dia yakin orang-orang yang melakukan aksi keji terhadap MA bukanlah orang-orang yang tinggal di sekitar Musala Al-Hidayah. Rojali yakin warganya tidak akan melakukan perbuatan keji seperti itu.

"Karena kemarin aja kita ada maling (curi) 3 ekor kambing enggak diapa-apain. Saya sampai kaget kalau sampai endingnya seperti ini. Dia memang ngambil ampli masjid. Tapi saya secara pribadi, secara pengurus juga sudah merelakan dan mengikhlaskan," tuturnya.
"Mudah-mudahan beliau diampuni dosanya, diterima amal ibadahnya, dan beliau di sana mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Untuk keluarga saya juga mendoakan biar keluarga Allah berikan ketabahan dan kesabaran," katanya.

Lewat kejadian ini, dia berharap agar dapat dijadikan pelajaran bagi seluruh lapisan masyarakat.

"Buat saya, sifat anarkisme seperti itu sangat tidak dibenarkan. Kalaupun dia memang salah, biar hukum kita yang menjawab, karena negara kita adalah negara hukum, bukan negara yang main hakim sendiri," tutupnya.
Reporter: Ferio Pristiawan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JUSUF KALLA: JEMPOL BUAT POLRI "UNGKAP SABU 1 TON"

Jakarta- Upaya Polda Metro jaya yang terdiri dari gabungan Ditresnarkoba Polda Metro dan Polresta Depok mengungkap penyeludupan Sabu 1 Ton mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Begitu juga Wakil Presiden RI Jusuf Kalla angkat jempol buat Polri, pria yang di akrab di panggil JK itu, memuji kinerja aparat kepolisian, menurutnya penagkapan tersebut merupakan prestasi baru, Sabtu (15/7/17).  JK juga menegaskan "penangkapan sabu 1 Ton kemarin merupakan terbesar saat ini, dan prestasi luar bisa, namun Jk juga menghimbau aparat kepolsian tak cepat puas dan meningkatkan kerjasama Internasional. JK juga berharap pelaku dapat hukuman yang berat, dengan tegas JK mengatakan "jadi ini memang harus diproses sangat berat, yang lebih kecil aja 1 kg bisa hukuman mati, apalagi yang 1 Ton", ujar JK, Sabtu (15/7/17) Memang tangkapan Sabu 1 Ton ini selain bernilai triliyunan Rupiah, juga dapat menyelematkan anak bangsa hingga 100 juta jiwa, artinya dengan tertangkapnya penyelud...

Ketua MUI: Umat Islam Tak Usah Ikut Aksi 287

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin mengimbau, umat Islam tidak terprovokasi sehingga turut menjadi peserta dalam aksi 287. JAKARTA  - Unjuk rasa besar yang rencananya diselenggarakan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI itu akan dilaksanakan di Jakarta pada Jumat esok, 28 Juli 2017. Rencana aksi tersebut akan diikuti 5.000 hingga 10.000 orang. Tujuan aksi  itu untuk memprotes Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang baru diterbitkan. Menurut Maruf, unjuk rasa adalah hal yang tidak perlu dilakukan. "Kalau (menurut) MUI sih, pemerintah, umat, tidak usah terprovokasi, tidak usah ikut (unjuk rasa 287). Itu (perihal keberlanjutan Perppu), sudah ada mekanismenya, bahwa pemerintah berhak, menurut Undang-undang membuat Perppu. Dan nanti Perppu itu akan diuji oleh DPR. Itu kan berjalan saja. Tidak usah ada tekanan-tekanan dari pihak mana pun. Saya kira itu," ujar Maruf di J...

Polri Serius Tangani Kasus Novel Baswedan, Sketsa Terkini Pelaku Sudah Didapatkan

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menunjukkan sketsa terbaru wajah terduga pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Sketsa diperoleh berdasarkan keterangan saksi yang ada di lokasi kejadian. "Ini adalah dari saksi yang sangat penting karena 5 menit sebelum kejadian ada di dekat masjid. Dia mencurigakan yang kami duga dia pengendara sepeda motor," kata Tito dalam konferensi pers seusai pertemuan di kantor Presiden, kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (31/7/2017). Saksi melihat terduga pelaku berdiri mencurigakan di dekat masjid tempat Novel menunaikan salat subuh berjemaah. Terduga penyerang Novel itu memiliki ciri-ciri bertubuh ramping, tinggi 167-170 cm, kulit agak hitam, dan rambut keriting. S aksi yang dimaksud Tito tak bersedia diungkap namanya. Tetapi saksi tersebut dinilai sangat penting oleh kepolisian. Pihaknya juga bekerja sama dengan kepolisian Australia (AFP) untuk mengungkap kasus ini. "Ini su...