Langsung ke konten utama

WAPRES DAN KETUA PBNU MENILAI AKSI 55 TIDAK ADA FAEDAHNYA


Jakarta, Lagi-lagi pengerahan massa untuk memenjarakan Ahok dilakukan lagi tepatnya 3 hari mendatang selepas sholat jumat (5/5/2017).  Aksi yang digagas oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI rencana akan melakukan long march dari Masjid Istiqlal menuju Mahkamah Agung.

Aksi ini bertajuk  “Aksi Simpatik 55, Menjaga Independensi Hakim” dengan tujuan untuk memberikan dukungan kepada majelis hakim agar memutuskan hukuman dengan seadil-adilnya.
Apabila melihat Aksi yang terakhir 28/4/17 yang agendanya sama, hanya berbeda route yaitu longmarch dari Istiqlal menuju PN Jakut hanya diikuti sekitar 200 orang. Artinya masyarakat juga sudah lelah dan mengerti bahwa hal itu lebih banyak mudaratnya ketimbang faedahnya. 

Sebagaimana Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj berharap, GNPF bersama dengan ormas muslim lainnya mengurungkan niat melakukan aksi itu. Sebab, menurutnya, aspirasi lebih baik dilakukan lewat dialog bukan melakukan aksi, ujarnya pada Jawapos.com (3/5/2017).

Said Aqil beranggapan bahwa aksi tidak ada gunanya, hanya mengahabiskan waktu, tenaga dan uang. Ada cara yang lebih elegan dengan cara berdialog tanpa harus turun kejalan atau demo, sehingga tidak mengganggu aktivitas masyarakat serta menunjukkan Islam sejatinya. 

Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla juga angkat bicara ada republika.com (rabu, 3/4/2017) bahwa “Rencana aksi 55 sebetulnya tidak perlu lagi dilakukan karena sudah menjadi urusan pengadilan”. 

Pada intinya Jusuf Kalla tidak ingin aksi ini menimbulkan gaduh dan menggangu keamanan, walaupun unjuk rasa itu telah di atur oleh undang –undang, bukan berarti sebebas-bebasnya tanpa mengindahkan peraturan yang ada. 

Apabila dicermati pendapat di atas, mengandung makna bahwa aksi 55 secara pararel menyatakan tidak ada faedahnya. Perlu diketahui bahwa negara Indonesia tidak hanya mengurusi Ahok dan GNPF saja, masih banyak yang perlu dikerjakan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. (Al-manaf)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JUSUF KALLA: JEMPOL BUAT POLRI "UNGKAP SABU 1 TON"

Jakarta- Upaya Polda Metro jaya yang terdiri dari gabungan Ditresnarkoba Polda Metro dan Polresta Depok mengungkap penyeludupan Sabu 1 Ton mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Begitu juga Wakil Presiden RI Jusuf Kalla angkat jempol buat Polri, pria yang di akrab di panggil JK itu, memuji kinerja aparat kepolisian, menurutnya penagkapan tersebut merupakan prestasi baru, Sabtu (15/7/17).  JK juga menegaskan "penangkapan sabu 1 Ton kemarin merupakan terbesar saat ini, dan prestasi luar bisa, namun Jk juga menghimbau aparat kepolsian tak cepat puas dan meningkatkan kerjasama Internasional. JK juga berharap pelaku dapat hukuman yang berat, dengan tegas JK mengatakan "jadi ini memang harus diproses sangat berat, yang lebih kecil aja 1 kg bisa hukuman mati, apalagi yang 1 Ton", ujar JK, Sabtu (15/7/17) Memang tangkapan Sabu 1 Ton ini selain bernilai triliyunan Rupiah, juga dapat menyelematkan anak bangsa hingga 100 juta jiwa, artinya dengan tertangkapnya penyelud...

Ketua MUI: Umat Islam Tak Usah Ikut Aksi 287

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin mengimbau, umat Islam tidak terprovokasi sehingga turut menjadi peserta dalam aksi 287. JAKARTA  - Unjuk rasa besar yang rencananya diselenggarakan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI itu akan dilaksanakan di Jakarta pada Jumat esok, 28 Juli 2017. Rencana aksi tersebut akan diikuti 5.000 hingga 10.000 orang. Tujuan aksi  itu untuk memprotes Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang baru diterbitkan. Menurut Maruf, unjuk rasa adalah hal yang tidak perlu dilakukan. "Kalau (menurut) MUI sih, pemerintah, umat, tidak usah terprovokasi, tidak usah ikut (unjuk rasa 287). Itu (perihal keberlanjutan Perppu), sudah ada mekanismenya, bahwa pemerintah berhak, menurut Undang-undang membuat Perppu. Dan nanti Perppu itu akan diuji oleh DPR. Itu kan berjalan saja. Tidak usah ada tekanan-tekanan dari pihak mana pun. Saya kira itu," ujar Maruf di J...

Polri Serius Tangani Kasus Novel Baswedan, Sketsa Terkini Pelaku Sudah Didapatkan

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menunjukkan sketsa terbaru wajah terduga pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Sketsa diperoleh berdasarkan keterangan saksi yang ada di lokasi kejadian. "Ini adalah dari saksi yang sangat penting karena 5 menit sebelum kejadian ada di dekat masjid. Dia mencurigakan yang kami duga dia pengendara sepeda motor," kata Tito dalam konferensi pers seusai pertemuan di kantor Presiden, kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (31/7/2017). Saksi melihat terduga pelaku berdiri mencurigakan di dekat masjid tempat Novel menunaikan salat subuh berjemaah. Terduga penyerang Novel itu memiliki ciri-ciri bertubuh ramping, tinggi 167-170 cm, kulit agak hitam, dan rambut keriting. S aksi yang dimaksud Tito tak bersedia diungkap namanya. Tetapi saksi tersebut dinilai sangat penting oleh kepolisian. Pihaknya juga bekerja sama dengan kepolisian Australia (AFP) untuk mengungkap kasus ini. "Ini su...