Langsung ke konten utama

ISIS DAN KELOMPOK RADIKAL INDONESIA AKUI BOM KAMPUNG MELAYU



Jakarta- Rabu malam semau media menyoroti tragedi Bom Bunuh diri di Halte Bus Trans Jakarta Terminal Kampung Melayu sementara berjumlah 15 orang dan 4 orang di antaranya meninggal dunia.

Pada jumat 26 mei 2017 detik.com memberitakan bahwa kelompok ISIS mengklaim bertanggung jawab atas ledakan di Kampung Melayu-Jakarta Timur.

Sebelumnya, polisi menduga aksi bom di terminal Kampung Melayu terkait dengan jaringan Jamaah Anshar Daulah (JAD) kelompok ISIS apabila meihat pola, jenis bom, konten, dan komponenya sama, ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (25/5/2017).

Namun kelompok radikal di Indonesia Pro ISIS bukan hanya JAD, akan tetapi ada beberapa kelompok radikal lain yang patut diwaspadai, karena terhubung dan terinterkoneksi dengan jaringan kelompok ISIS.

Setidaknya arrahmannews.com merelease ada 18 kelompok Islam Ekstremis yang pro ISIS yang wajib di waspadai, diantaranya: Mujahidin Indonesia Barat (MIB); Mujahidin Indonesia Timur (MIT); Jamaah Ansharuut Tauhid (JAT); Ring Banten; Jamaah Tawhid wal Jihad; Forum Aktivis Syariah Islam (Faksi); Pendukung dan pembela daulah; Gerakan Reformasi Islam; Asybal Tawhid Indonesia; Kongres Umat Islam Bekasi; Umat Islam Nusantara; Ikhwan Muwahid Indunisy Fie; Jazirah al-Muluk (Ambon; Ansharul Kilafah Jawa Timur, Halawi Makmun Group; Gerakan Tawhid Lamongan; Khilafatul Muslimin dan Laskar Jundullah,  di posting 16 November 2015.

Belakang ini, jaringan atau kelompok radikal Pro ISIS berkembang baik dari jumlah maupun cara-cara melakukan terornya, ada yang melakukan langsung dengan Bom Bunuh diri seperti di Kampung Melayu- Jakarta Timur, ada juga yang melakukan dengan cara-cara mempengaruhi opini masyarakat melalui media sosial maupun safari dakwah dibungkus secara islami dan religius tetapi doktrin doktrin radikalisme di sisipkan secara halus.

Sehingga ketika mereka disentuh oleh aparat hukum masyarakat akan mengalami resistensi dan menganggap pemerintah atau negara Anti-Islam. Walaupun mereka dari segi jumlah minoritas karena serangan-serangan di media sosial masif dan terus menurus, lama-lama opini di masyarakat akan terbentuk dan semakin bertambah jumlahnya serta akhirnya mereka cenderung menyalahkan pemerintah atas sikap kewaspadaannya dan serangkaian penagkakapan terhadap kelompok radikal Pro ISIS.

Pada zaman sekarang ini masyarakat Indonesia tidak bisa lepas dari kiprah media sosial, dari mulai kalangan atas sampai kepada akar rumput. Bahayanya masyarakat yang pemahaman terhadap agama Islam kurang mumpuni akan mudah terpengaruh oleh serangan dalam bentuk doktrinisasi, hasutan dan provokasi di media sosial.

Mengutip yout tube tentang ceramah Habibana Rizieq Shihab yang mengkalaim keturunan Nabi dan Imam Besar umat Islam di Indonesia, “ Apa Yang Baik Dari ISIS Kita Akui Baik, Cita Cita Mulianya Menegakkan Menerapkan Syariat Islam Hal Yang Baik, Cita-Citanya Mulainya Untuk Menegakkan Khilafah Islamiyah Merupakan Hal Yang Baik”.

Lebih lanjut Imam Besar yang satu ini menegaskan “ Jangan Mau Kita Di Domba Dengan ISIS Saudara, Sekarang Ini Banyak Pihak-Pihak Menginginkan Supaya Kita Bermusuhan Dengan ISIS Betul, Suapaya Kita Menggebuki Isis Betul, Itu Tidak Akan Dilakukan Oleh FPI Saudara, Kalau Densus 88 Terus Menerus Melakukan Kedzoliman, Siap Lawan...Siap Lawan”.

Apabila di analisis hal-hal semacam ini juga bisa dianggap sebuah teror dengan cara mengahasut untuk membenci terhadap aparat yang getol menangkap kaum radikal yang meresahkan masyarakat, dan membentuk opini bahwa ISIS adalah gerakan yang mulia, dan membentuk opini bahwa Bom dan teror buatan ISIS harus didukung oleh FPI dan Umat islam di Indonesia.

Walaupun Habibana yang mulia Rizieq Shihab tidak pernah melakukan teror Bom namun apa beda dengan ucapannya yang terus menerus dan berulang-ulang mempengaruhi masyarakat untuk mendukung dan menghalalkan cara-cara yang dilakukan ISIS di Indonesia.


Agar masyarakat tahu sasaran Bom di kampung melayu adalah terhadap polisi yang sedang mengamankan pawai obor FPI, kenapa polisi mengamankan karena menjaga masyarakat agar situasi kamtibmas tetap kondusif, tapi pandangan kelompok radikal merupakan sebagai bentuk penghalang bahkan penghambat dan sengaja dibenturkan dengan opini bahwa BOM itu adalah rekayasa, bisa juga FPI adalah ISIS , dan FPI adalah termasuk dalam kelompok 18 rakdikal di atas, akan tetapi dalam bentuk lain dan cara serta metode yang berbeda, kendati demikian tujuannya adalah sama, menghancurkan dan memporaporandakan NKRI, untuk negara khilafah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JUSUF KALLA: JEMPOL BUAT POLRI "UNGKAP SABU 1 TON"

Jakarta- Upaya Polda Metro jaya yang terdiri dari gabungan Ditresnarkoba Polda Metro dan Polresta Depok mengungkap penyeludupan Sabu 1 Ton mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Begitu juga Wakil Presiden RI Jusuf Kalla angkat jempol buat Polri, pria yang di akrab di panggil JK itu, memuji kinerja aparat kepolisian, menurutnya penagkapan tersebut merupakan prestasi baru, Sabtu (15/7/17).  JK juga menegaskan "penangkapan sabu 1 Ton kemarin merupakan terbesar saat ini, dan prestasi luar bisa, namun Jk juga menghimbau aparat kepolsian tak cepat puas dan meningkatkan kerjasama Internasional. JK juga berharap pelaku dapat hukuman yang berat, dengan tegas JK mengatakan "jadi ini memang harus diproses sangat berat, yang lebih kecil aja 1 kg bisa hukuman mati, apalagi yang 1 Ton", ujar JK, Sabtu (15/7/17) Memang tangkapan Sabu 1 Ton ini selain bernilai triliyunan Rupiah, juga dapat menyelematkan anak bangsa hingga 100 juta jiwa, artinya dengan tertangkapnya penyelud...

Ketua MUI: Umat Islam Tak Usah Ikut Aksi 287

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin mengimbau, umat Islam tidak terprovokasi sehingga turut menjadi peserta dalam aksi 287. JAKARTA  - Unjuk rasa besar yang rencananya diselenggarakan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI itu akan dilaksanakan di Jakarta pada Jumat esok, 28 Juli 2017. Rencana aksi tersebut akan diikuti 5.000 hingga 10.000 orang. Tujuan aksi  itu untuk memprotes Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang baru diterbitkan. Menurut Maruf, unjuk rasa adalah hal yang tidak perlu dilakukan. "Kalau (menurut) MUI sih, pemerintah, umat, tidak usah terprovokasi, tidak usah ikut (unjuk rasa 287). Itu (perihal keberlanjutan Perppu), sudah ada mekanismenya, bahwa pemerintah berhak, menurut Undang-undang membuat Perppu. Dan nanti Perppu itu akan diuji oleh DPR. Itu kan berjalan saja. Tidak usah ada tekanan-tekanan dari pihak mana pun. Saya kira itu," ujar Maruf di J...

Polri Serius Tangani Kasus Novel Baswedan, Sketsa Terkini Pelaku Sudah Didapatkan

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menunjukkan sketsa terbaru wajah terduga pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Sketsa diperoleh berdasarkan keterangan saksi yang ada di lokasi kejadian. "Ini adalah dari saksi yang sangat penting karena 5 menit sebelum kejadian ada di dekat masjid. Dia mencurigakan yang kami duga dia pengendara sepeda motor," kata Tito dalam konferensi pers seusai pertemuan di kantor Presiden, kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (31/7/2017). Saksi melihat terduga pelaku berdiri mencurigakan di dekat masjid tempat Novel menunaikan salat subuh berjemaah. Terduga penyerang Novel itu memiliki ciri-ciri bertubuh ramping, tinggi 167-170 cm, kulit agak hitam, dan rambut keriting. S aksi yang dimaksud Tito tak bersedia diungkap namanya. Tetapi saksi tersebut dinilai sangat penting oleh kepolisian. Pihaknya juga bekerja sama dengan kepolisian Australia (AFP) untuk mengungkap kasus ini. "Ini su...