Langsung ke konten utama

CIVITAS ACADEMY SE-INDONESIA: MENDUKUNG PEMBUBARAN HTI


Jakarta - Pembubaran HTI  oleh pemerintah beberapa waktu yang lalu telah menimbulkan pro dan kontra, tentunya bagi yang sejalan pembubaran HTI tidak berdasarkan undang-undang dan inkonstitusional. 

Negara seakan-akan dianggap bersalah dan sewenang-wenang  telah membubarkan HTI, karena selama ini mereka beranggpan bahwa HTI setia kepada Pancasila dan telah berbadan hukum, artinya keberadaannya legal di Indonesia. 

Perlu diketahui Hizbut Tahir termasuk HTI gagasannya adalah menyerbarluaskan negara khilafah yang akan menpersatukan dunia, mereka juga menyebut  umat Islam sedunia dapat mengatasi berbagai masalah,  semacam keterbelakangan, kemiskinan, pengangguran, dan berbagai bentuk kenestapaan lain. 

Faham ini juga telah di deklarasikan  oleh Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dimana Abu Bakr al-Baghdadi sebagai khalifah. Mereka mengklaim negara khilafah telah ditegakkan di wilayah yang mereka kuasai. Sejumlah hukum Islam telah mereka terapkan. Perempuan yang keluar rumah dengan pakaian selain warna hitam dihukum mati. Tentara musuh dibunuh bahkan ada yang dibakar hidup-hidup. 

HTI ini tidak mempertimbangkan keberagaman dan kebhinekaan  seperti di Indonesia dan sudah ditolak di 26 negara termasuk di Timur Tengah. Bahkan dinegaranya sendiri bukan mendatangkan kemajuan dan kebahagian, melainkan peperangan, perpecahan, dan kemiskinan yang terjadi.

Maka dari itu, NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam tertua di Indonesia sampai sekarang tidak pernah berbicara tentang khilafah, bahkan sebaliknya menerima dan  mengembangkan konsep dan praksis negara-bangsa Indonesia. 

Senada dengan kaum Muslim di sejumlah kawasan dunia telah mengadopsi konsep negara-bangsa berdasarkan realitas bangsa dengan tradisi-sosial, budaya, kondisi geografis, dan pengalaman historis masing-masing (Piagam Madinah). 

Sejumlah Citivas Academy se-Indonesia juga menyampakan hal yang sama, IAIN samarinda secara tegas mendeklarasikan  bersedia berpartisipasi aktif dan mengambil peran-peran supervise dalam upaya penyebarluasan ajaran Islam yang rahmatan Iil’Alamin, sesuai 4 pilar kebangsaan yakni dasar dan Ideologi Negara Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, dan mendukung sepenuhnya upaya pemerintah membubarkan HTI,  senin (15/6/17). 

Begitu juga mahasiswa IPB mengklarifikasi  video yang menunjukkan sumpah sejumlah mahasiswa terkait khilafah Islamiyah menjadi perbincangan di media sosial akhir-akhir ini. 

Dalam video itu, ribuan mahasiswa yang berada di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Dramaga bersumpah untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia (Beritasatu.com, 27/4/17). 

Mereka menyatakan tidak benar dan setia kepada NKRI serta menolak khilafah di Indonesia, sekaligus melaporkan atas video tersebut kepada kepada Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Bahkan ITB jelas-jelas melarang dan menolak aktivitas terkait dengan HTI dan semua konteks yang terkait dengan radikal, ungkap Bermawi kepada Tempo.com (12/5/17). 

Inilah sebuah bentuk kesadaran seluruh Civitas Academy seluruh Indonesia, akan pentingnya kebhinekaan sebagai kekuatan dalam membangun bangsa, dan sebuah harapan bahwa bangsa Indonesia akan maju apabila tidak adalagi upaya mengkotak-kotakan atau membuat friksi sehingga terus-menerus terjadi konflik. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JUSUF KALLA: JEMPOL BUAT POLRI "UNGKAP SABU 1 TON"

Jakarta- Upaya Polda Metro jaya yang terdiri dari gabungan Ditresnarkoba Polda Metro dan Polresta Depok mengungkap penyeludupan Sabu 1 Ton mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Begitu juga Wakil Presiden RI Jusuf Kalla angkat jempol buat Polri, pria yang di akrab di panggil JK itu, memuji kinerja aparat kepolisian, menurutnya penagkapan tersebut merupakan prestasi baru, Sabtu (15/7/17).  JK juga menegaskan "penangkapan sabu 1 Ton kemarin merupakan terbesar saat ini, dan prestasi luar bisa, namun Jk juga menghimbau aparat kepolsian tak cepat puas dan meningkatkan kerjasama Internasional. JK juga berharap pelaku dapat hukuman yang berat, dengan tegas JK mengatakan "jadi ini memang harus diproses sangat berat, yang lebih kecil aja 1 kg bisa hukuman mati, apalagi yang 1 Ton", ujar JK, Sabtu (15/7/17) Memang tangkapan Sabu 1 Ton ini selain bernilai triliyunan Rupiah, juga dapat menyelematkan anak bangsa hingga 100 juta jiwa, artinya dengan tertangkapnya penyelud...

Ketua MUI: Umat Islam Tak Usah Ikut Aksi 287

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin mengimbau, umat Islam tidak terprovokasi sehingga turut menjadi peserta dalam aksi 287. JAKARTA  - Unjuk rasa besar yang rencananya diselenggarakan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI itu akan dilaksanakan di Jakarta pada Jumat esok, 28 Juli 2017. Rencana aksi tersebut akan diikuti 5.000 hingga 10.000 orang. Tujuan aksi  itu untuk memprotes Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang baru diterbitkan. Menurut Maruf, unjuk rasa adalah hal yang tidak perlu dilakukan. "Kalau (menurut) MUI sih, pemerintah, umat, tidak usah terprovokasi, tidak usah ikut (unjuk rasa 287). Itu (perihal keberlanjutan Perppu), sudah ada mekanismenya, bahwa pemerintah berhak, menurut Undang-undang membuat Perppu. Dan nanti Perppu itu akan diuji oleh DPR. Itu kan berjalan saja. Tidak usah ada tekanan-tekanan dari pihak mana pun. Saya kira itu," ujar Maruf di J...

Polri Serius Tangani Kasus Novel Baswedan, Sketsa Terkini Pelaku Sudah Didapatkan

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menunjukkan sketsa terbaru wajah terduga pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Sketsa diperoleh berdasarkan keterangan saksi yang ada di lokasi kejadian. "Ini adalah dari saksi yang sangat penting karena 5 menit sebelum kejadian ada di dekat masjid. Dia mencurigakan yang kami duga dia pengendara sepeda motor," kata Tito dalam konferensi pers seusai pertemuan di kantor Presiden, kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (31/7/2017). Saksi melihat terduga pelaku berdiri mencurigakan di dekat masjid tempat Novel menunaikan salat subuh berjemaah. Terduga penyerang Novel itu memiliki ciri-ciri bertubuh ramping, tinggi 167-170 cm, kulit agak hitam, dan rambut keriting. S aksi yang dimaksud Tito tak bersedia diungkap namanya. Tetapi saksi tersebut dinilai sangat penting oleh kepolisian. Pihaknya juga bekerja sama dengan kepolisian Australia (AFP) untuk mengungkap kasus ini. "Ini su...