Langsung ke konten utama

BERBAGAI KALANGAN DUKUNG KAPOLRI “TEKAN RADIKAL”


Jakarta - Polri di bawah pimpinan Jendral Tito Karnavian mengalami tantangan luar biasa, terutama semenjak bergulirnya Pilgub DKI 2017. Gerak-gerakan radikal sepertinya mendapatkan pintu masuk atau jalan untuk melancarkan serangkaian kegiatannya  seiring dengan kasus penistaan agama oleh Ahok.

Direktur Program Imparsial  Al Araf menyampaikan  selama pilkada DKI Jakarta berlangsung gerakan-gerakan berbau radikalisme sangat menguat  (senin 1/5).

Lebih lanjut ditegaskan   "Aroma kebencian antara sesama sangat menguat, Namun atas kerja yang bagus dari kepolisian yang bertanggung jawab menjaga keamanan bisa mengantisipasi itu semua”. Sehingga potensi konflik yang dinilai sebagian kalangan tidak terjadi," tandasnya  (Senin, 1/5).

Selain itu juga Ketua PBNU, KH Marsudi Suhud mengatakan terkait dengan “langkah-langkah Polri terhadap radikalisme termasuk kasus makar, dinilai tidak ada yang salah”, (senin (1/5).

Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah, Prof A Syafiq Mugni mengatakan apapun yang dilakukan kepolisian merupakan suatu kebiajakan dalam penegakkan hukum harus berjalan dengan baik.

Artinya bahwa equality befor the law  harus mnejadi rujuakn dalam mengendalikan penegakkan hukum di Indonesia, jika citra Polri ingin baik.

Dengan demikian masyarakat  Indonesia apabila cita damai dan ingin tetap dalam bingkai NKRI, mari dukung langkah Kapolri.

Isu-isu miring tentang Polri dalam menangani gerakkan radikal sengaja dibiaskan oleh kelompok-kelompok mereka, seolah-olah Polri anti Islam.

Kami yakin Pak Tito seorang muslim yang taat, namun dia hanya berkeinginan bahwa Indonesia tetap dalam bingkai NKRI.  Jelasnya berita-berita terutama di media sosial yang memojokkan Polri dengan balutan Agama belum tentu benar.

Kita harus yakin, bahwa langkah Polri demi NKRI, maka dari seluruh elemen pemerintah dan masyarakat  suarakan hati nurani anda, “Jika Cinta Tanah Air”, kikis habis ujaran kebencian dan kaum yang sengaja memfitnah untuk menggoyang keutuhan NKRI. (Al Manaf)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JUSUF KALLA: JEMPOL BUAT POLRI "UNGKAP SABU 1 TON"

Jakarta- Upaya Polda Metro jaya yang terdiri dari gabungan Ditresnarkoba Polda Metro dan Polresta Depok mengungkap penyeludupan Sabu 1 Ton mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Begitu juga Wakil Presiden RI Jusuf Kalla angkat jempol buat Polri, pria yang di akrab di panggil JK itu, memuji kinerja aparat kepolisian, menurutnya penagkapan tersebut merupakan prestasi baru, Sabtu (15/7/17).  JK juga menegaskan "penangkapan sabu 1 Ton kemarin merupakan terbesar saat ini, dan prestasi luar bisa, namun Jk juga menghimbau aparat kepolsian tak cepat puas dan meningkatkan kerjasama Internasional. JK juga berharap pelaku dapat hukuman yang berat, dengan tegas JK mengatakan "jadi ini memang harus diproses sangat berat, yang lebih kecil aja 1 kg bisa hukuman mati, apalagi yang 1 Ton", ujar JK, Sabtu (15/7/17) Memang tangkapan Sabu 1 Ton ini selain bernilai triliyunan Rupiah, juga dapat menyelematkan anak bangsa hingga 100 juta jiwa, artinya dengan tertangkapnya penyelud...

Ketua MUI: Umat Islam Tak Usah Ikut Aksi 287

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin mengimbau, umat Islam tidak terprovokasi sehingga turut menjadi peserta dalam aksi 287. JAKARTA  - Unjuk rasa besar yang rencananya diselenggarakan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI itu akan dilaksanakan di Jakarta pada Jumat esok, 28 Juli 2017. Rencana aksi tersebut akan diikuti 5.000 hingga 10.000 orang. Tujuan aksi  itu untuk memprotes Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang baru diterbitkan. Menurut Maruf, unjuk rasa adalah hal yang tidak perlu dilakukan. "Kalau (menurut) MUI sih, pemerintah, umat, tidak usah terprovokasi, tidak usah ikut (unjuk rasa 287). Itu (perihal keberlanjutan Perppu), sudah ada mekanismenya, bahwa pemerintah berhak, menurut Undang-undang membuat Perppu. Dan nanti Perppu itu akan diuji oleh DPR. Itu kan berjalan saja. Tidak usah ada tekanan-tekanan dari pihak mana pun. Saya kira itu," ujar Maruf di J...

Polri Serius Tangani Kasus Novel Baswedan, Sketsa Terkini Pelaku Sudah Didapatkan

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menunjukkan sketsa terbaru wajah terduga pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Sketsa diperoleh berdasarkan keterangan saksi yang ada di lokasi kejadian. "Ini adalah dari saksi yang sangat penting karena 5 menit sebelum kejadian ada di dekat masjid. Dia mencurigakan yang kami duga dia pengendara sepeda motor," kata Tito dalam konferensi pers seusai pertemuan di kantor Presiden, kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (31/7/2017). Saksi melihat terduga pelaku berdiri mencurigakan di dekat masjid tempat Novel menunaikan salat subuh berjemaah. Terduga penyerang Novel itu memiliki ciri-ciri bertubuh ramping, tinggi 167-170 cm, kulit agak hitam, dan rambut keriting. S aksi yang dimaksud Tito tak bersedia diungkap namanya. Tetapi saksi tersebut dinilai sangat penting oleh kepolisian. Pihaknya juga bekerja sama dengan kepolisian Australia (AFP) untuk mengungkap kasus ini. "Ini su...