Langsung ke konten utama

Kapolri: Kita Sukses Merawat Kerangka NKRI Beragam Namun Tetap Satu


Depok. Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian memberikan kuliah umum pada  acara Deklarasi Gerakan Mahasiswa (Gema) Aliansi Relawan Perguruan Tinggi Anti Penyalahgunaan Narkoba (Artipena) Jabodetabek, di Balairung Kampus Universitas Indonesia, Depok, Selasa (25/4)
“Kita sukses merawat kerangka NKRI ini, yang beragam namun tetap satu. Tapi kita belum sukses melakukan pemerataan pembangunan,” ujar Kapolri.
Kapolri memberi contoh bahwa negara Singapura telah sukses melakukan pemerataan pembangunan. Meskipun, negara tersebut baru merdeka tahun 1965.
“Mereka (Singapura) sukses membangun, membuat pembangunan di negara tersebut dirasakan oleh rakyatnya. Menjadi salah satu negara yang paling maju di dunia,” kata Tito.
Menurut Kapolri, negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dan Thailand, juga sudah mulai menjadi negara besar. “Tetapi di Indonesia, kesenjangan sosial antara yang miskin dan yang kaya masih terlalu tinggi.”
Demografi kesejahteraan Indonesia, kata Tito, masih berbentuk piramida yang didominasi oleh low class. Itu disebabkan masih banyak masyarakat Indonesia yang berpendidikan rendah. Tidak hanya di pelosok daerah, bahkan di Jakarta yang notabene Ibu Kota Negara, masih ditemukan banyak kawasan kumuh.
“Bahkan di Jakarta kita masih temui daerah kumuh, daerah slum area yang kontras dengan kelompok masyarakat yang kaya,” tuturnya.
Tidak meratanya pembangunan di Indonesia, kata Tito, bukan tidak mungkin jadi faktor pemecah kebhinnekaan di Indonesia. Pasalnya, akan ada kecemburuan dari masyarakat kelas bawah ke kelompok high class.
“Konflik vertikal bisa menguat, demo yang terjadi juga banyak melibatkan low class, dengan tuntutan dasar adalah masalah kesejahteraan,” katanya.
Perkuat Middle Class
Menurut Tito, bila ingin menjadi negara maju, Indonesia harus menipiskan jarak antara low class dan high class. Keberadaan middle class atau golongan menengah harus diperkuat agar menjadi mayoritas.
“Kita belum mampu membuat struktur demografi kesejahteraan masyarakat Indonesia menjadi dua piramida terbalik. Yaitu kecilnya golongan low class dan high class, dan yang menjadi mayoritas adalah kelas menengah,” kata Kapolri.
Kapolri mengatakan, pemerintah saat ini terus membuat program pemerataan untuk menjamin pembangunan yang berpihak pada kelas bawah. Hal tersebut penting agar tidak timbul konflik yang dapat mengancam kebhinnekaan Indonesia.
“Kalau kesenjangan terus terjadi maka potensi konflik perpecahan akan terus terjadi di Indonesia,” tegasnya.
Selain pemerataan, menurut Tito, Indonesia juga harus memacu pertumbuhan ekonomi bila ingin menjadi negara maju. Indonesia harus mempertahankan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen setiap tahun.
“Stabilitas politik dan keamanan harus terjaga supaya investor dari dalam dan luar negeri mau berinvestasi. Tidak boleh ada gerakan-gerakan inkonstitusional, yang mengganggu keamanan dan berpotensi memecah belas persatuan,” tegasnya.
Dalam ceramahnya, Kapolri juga menekankan pentingnya peran kaum intelektual dalam memajukan suatu bangsa.
Acara deklarasi Gema Artipena Jabodetabek juga dihadiri oleh perwakilan dari Badan Narkotika Nasional (BNN), perwakilan Kemenristek Dikti, Karo Penum Mabes Polri Brigjen Rikwanto, Kapolresta Depok Kombes Pol. Herry Heryawan, serta ketua umum DPP Artipena Suryo Hapsoro Tri Utomo.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JUSUF KALLA: JEMPOL BUAT POLRI "UNGKAP SABU 1 TON"

Jakarta- Upaya Polda Metro jaya yang terdiri dari gabungan Ditresnarkoba Polda Metro dan Polresta Depok mengungkap penyeludupan Sabu 1 Ton mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Begitu juga Wakil Presiden RI Jusuf Kalla angkat jempol buat Polri, pria yang di akrab di panggil JK itu, memuji kinerja aparat kepolisian, menurutnya penagkapan tersebut merupakan prestasi baru, Sabtu (15/7/17).  JK juga menegaskan "penangkapan sabu 1 Ton kemarin merupakan terbesar saat ini, dan prestasi luar bisa, namun Jk juga menghimbau aparat kepolsian tak cepat puas dan meningkatkan kerjasama Internasional. JK juga berharap pelaku dapat hukuman yang berat, dengan tegas JK mengatakan "jadi ini memang harus diproses sangat berat, yang lebih kecil aja 1 kg bisa hukuman mati, apalagi yang 1 Ton", ujar JK, Sabtu (15/7/17) Memang tangkapan Sabu 1 Ton ini selain bernilai triliyunan Rupiah, juga dapat menyelematkan anak bangsa hingga 100 juta jiwa, artinya dengan tertangkapnya penyelud...

Ketua MUI: Umat Islam Tak Usah Ikut Aksi 287

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin mengimbau, umat Islam tidak terprovokasi sehingga turut menjadi peserta dalam aksi 287. JAKARTA  - Unjuk rasa besar yang rencananya diselenggarakan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI itu akan dilaksanakan di Jakarta pada Jumat esok, 28 Juli 2017. Rencana aksi tersebut akan diikuti 5.000 hingga 10.000 orang. Tujuan aksi  itu untuk memprotes Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang baru diterbitkan. Menurut Maruf, unjuk rasa adalah hal yang tidak perlu dilakukan. "Kalau (menurut) MUI sih, pemerintah, umat, tidak usah terprovokasi, tidak usah ikut (unjuk rasa 287). Itu (perihal keberlanjutan Perppu), sudah ada mekanismenya, bahwa pemerintah berhak, menurut Undang-undang membuat Perppu. Dan nanti Perppu itu akan diuji oleh DPR. Itu kan berjalan saja. Tidak usah ada tekanan-tekanan dari pihak mana pun. Saya kira itu," ujar Maruf di J...

Polri Serius Tangani Kasus Novel Baswedan, Sketsa Terkini Pelaku Sudah Didapatkan

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menunjukkan sketsa terbaru wajah terduga pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Sketsa diperoleh berdasarkan keterangan saksi yang ada di lokasi kejadian. "Ini adalah dari saksi yang sangat penting karena 5 menit sebelum kejadian ada di dekat masjid. Dia mencurigakan yang kami duga dia pengendara sepeda motor," kata Tito dalam konferensi pers seusai pertemuan di kantor Presiden, kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (31/7/2017). Saksi melihat terduga pelaku berdiri mencurigakan di dekat masjid tempat Novel menunaikan salat subuh berjemaah. Terduga penyerang Novel itu memiliki ciri-ciri bertubuh ramping, tinggi 167-170 cm, kulit agak hitam, dan rambut keriting. S aksi yang dimaksud Tito tak bersedia diungkap namanya. Tetapi saksi tersebut dinilai sangat penting oleh kepolisian. Pihaknya juga bekerja sama dengan kepolisian Australia (AFP) untuk mengungkap kasus ini. "Ini su...